Pelatihan Jurnalistik Bersama Media Kupas Tuntas

Selasa, 24 September 2024

" MEMBANGUN JURNALIS PROFESIONAL BERSAMA MEDIA KUPAS TUNTAS "


Sumber Berita :

Sri Astuti, S.Pd

SMP Negeri 32 Bandar lampung


Menindaklanjuti undangan Pelatihan Jurnalistik dari  Media Kupas Tuntas, SMP Negeri 32 Bandar Lampung mengirimkan 2 peserta dari unsur Kepala Sekolah dan guru. Kegiatan pelatihan kelas jurnalistik diselenggarakan di hotel Emersiah, Bandar Lampung, Selasa (24/09/2024). Kelas pelatihan jurnalistik tersebut diikuti serbanyak 200 peserta dari tingkat SD dan SMP se-Kota Bandar Lampung, dengan tema kegiatan “Membangkitan kreativitas melalui kegiatan kelas jurnalistik‟ .


Kegiatan ini menghadirkan pemateri Dr.Donald Sihotang, CEO media Kupas Tuntas group. Dr. Donald Sihotang, CEO dari Kupas Tuntas Group, menjadi pemateri utama dalam pelatihan jurnalistik yang digelar di Hotel Emersia, Bandar Lampung. Dalam pelatihan ini, Dr. Sihotang mengupas berbagai aspek penting dunia pers, mulai dari pengertian tentang pers, teknik dasar menulis berita, hingga penyelesaian sengketa pers dan peran kecerdasan buatan (AI) dalam industri jurnalisme modern.

Dalam sesi pertamanya, Dr. Donald menjelaskan secara rinci tentang pengertian pers, sejarahnya, serta fungsinya dalam masyarakat. Menurutnya, pers tidak hanya sekadar media penyampaian informasi, tetapi juga berfungsi sebagai kontrol sosial yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara kepentingan publik dan pemerintah. "Pers harus mampu menjadi pilar demokrasi yang independen, memberikan informasi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan," tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. Donald menyoroti pentingnya memahami teknik dasar dalam menulis berita yang baik dan benar. "Menulis berita tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga keakuratan dan kelengkapan informasi," katanya. Ia mengingatkan para peserta tentang struktur berita yang ideal, seperti piramida terbalik, yang menempatkan informasi paling penting di awal paragraf. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan sumber yang kredibel dalam sebuah berita.

Sesi berikutnya membahas tantangan dalam dunia pers, terutama terkait dengan penyelesaian sengketa pers. Dr. Donald menjelaskan bahwa sengketa pers sering kali muncul akibat ketidaksepahaman atau kesalahan dalam pemberitaan. Ia menekankan pentingnya media untuk selalu mengedepankan prinsip-prinsip jurnalistik yang etis, seperti verifikasi data dan pemberian hak jawab bagi pihak yang merasa dirugikan.

"Etika jurnalistik harus menjadi pegangan utama setiap jurnalis, terutama dalam menghadapi tantangan modern seperti berita palsu dan disinformasi," jelas Dr. Donald. Dalam hal sengketa, ia juga mengingatkan pentingnya mediasi sebagai langkah awal penyelesaian, sebelum membawa kasus ke jalur hukum. "Menjaga hubungan baik dengan narasumber dan masyarakat luas adalah kunci bagi keberlangsungan media," tambahnya.

Salah satu topik yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri media. Dr. Donald memaparkan bahwa AI telah mulai digunakan oleh beberapa media besar di dunia untuk membantu dalam proses penulisan berita, seperti mengolah data secara otomatis dan menghasilkan draft berita dalam hitungan detik. "AI memang bisa membantu efisiensi, tetapi tetap dibutuhkan sentuhan manusia untuk memastikan berita tersebut memiliki nilai jurnalistik dan kepekaan sosial," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran jurnalis, terutama dalam hal investigasi mendalam dan analisis yang memerlukan intuisi serta pemahaman konteks yang lebih luas. "AI adalah alat bantu, bukan pengganti. Keahlian jurnalis dalam menganalisis situasi dan memahami permasalahan tetap tidak bisa tergantikan oleh mesin," kata Dr. Donald dengan penuh keyakinan.

Peserta pelatihan sangat antusias dengan materi yang dibawakan oleh Dr. Donald. Mereka mengakui bahwa pemaparan tentang penggunaan AI dalam media adalah hal baru yang menarik dan relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Salah seorang peserta, Budi, menyatakan, "Saya baru tahu bahwa AI bisa digunakan dalam jurnalisme. Ternyata, teknologi ini bisa membantu, tetapi kita tetap harus menjadi jurnalis yang berpikir kritis."

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik. Para peserta diajak untuk melakukan latihan menulis berita berdasarkan materi yang disampaikan. Setelah sesi tentang teknik penulisan, mereka diminta untuk membuat berita singkat yang kemudian dievaluasi oleh tim dari Kupas Tuntas Group. Feedback dari Dr. Donald dan tim sangat membantu peserta memahami kesalahan-kesalahan umum dalam menulis berita.

Pada akhir pelatihan, Dr. Donald menutup dengan pesan penting kepada para peserta, khususnya terkait tanggung jawab moral jurnalis di era digital ini. "Jurnalis tidak hanya dituntut cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi juga harus bijak dalam memfilter informasi yang layak untuk disebarluaskan. Di era banjir informasi ini, jurnalis harus menjadi penjaga kebenaran, bukan sekadar pembawa berita," katanya mengakhiri sesi.

Pelatihan jurnalistik ini diharapkan dapat memberikan bekal yang berharga bagi para peserta dalam menjalani profesi sebagai jurnalis yang profesional, beretika, dan siap menghadapi tantangan di era digital.


Design of Open Media | To Blogger by Blog and Web