Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Selasa, 28 September 2021

 

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Oleh : Sri Astuti, S.Pd

 

                                     

 

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan tentang  kesimpulan dan juga koneksi antara semua materi yang telah diberikan dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak. Kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana untuk dapat mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. 

I.     Guru Sebagai Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

Guru adalah seorang pemimpin. Oleh karena itu seorang guru haruslah mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik di kelas, sekolah, maupun lingkungan sekitar masyarakat.. Sosok kepemimpinan seorang guru sangat diperlukan dalam mengelola pembelajaran di kelas. Kepemimpinan seorang guru bisa dilihat dari bagaimana cara dia mengelola kelas, melakukan strategi dalam proses pembelajaran, dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada baik di kelas maupun di sekolah.

Selain sebagai pemimpin dalam pembelajaran, guru juga dituntut mampu menjadi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya asset sekolah, memiliki kemampuan dalam mengelolaan dan dapat memanfaatkan aset-aset atau modal yang ada dilingkungan sekolah, sehingga menjadi sebuah potensi yang harus dimaksimalkan untuk menunjang keberhasilan sebuah pendidikan yaitu pendidikan yang berpihak pada murid.

JIka diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

Murid

Kepala Sekolah

Guru

Staf/Tenaga Kependidikan

Pengawas Sekolah

Orang Tua

Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

Keuangan

Sarana dan prasarana

Berangkat dari lingkup yang paling kecil yaitu kelas, guru bisa mengidentifikasi modal/aset yang ada untuk dikembangkan. Modal/aset utama sebagai acuan dalam pengembangan sebuah kelas/sekolah adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya.

  • Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking)

Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel di bawah ini.




 

  • Sejarah singkat pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development

ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010). 

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar.

  • v  Aset – aset dalam sebuah komunitas

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:

1. Modal Manusia

Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang.

Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok. Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi.

2. Modal Sosial

Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya. Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.

3. Modal Fisik

Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:

Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan. Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.

4. Modal Lingkungan/alam

Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.

5. Modal Finansial

Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.

Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.

Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.

6. Modal Politik

Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.

Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti  komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.

7. Modal Agama dan budaya

Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.

Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.

Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.

Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.

II.      Mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Sekolah bisa diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, karena didalamnya terdapat interaksi antara unsur hidup (biotik) dan unsur tak hidup (abiotik) dalam lingkungan tertentu. Yang termasuk unsur hidupnya adalah murid, guru, kepala sekolah, pengawas, staf/tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan unsur tak hidupnya adalah keuangan dan sarana prasarana sekolah. Berangkat dari hal di atas maka sekolah bisa disebut sebagai sebuah komunitas.

Cara mengimplementasikannya dimulai dari diri sendiri dengan selalu berpikir positif / merubah mindset , semangat yang tinggi serta menjalin komunikasi yang baik dan berkolaborasi dengan berbagai pihak baik pemangku kepentingan maupun rekan sejawat lainya di sekolah, lalu merencanakan sebuah program sederhana yang berdampak pada murid dengan memanfaatkan  aset-aset yang ada di sekolah, selanjutnya menerapkan dalam aksi nyata di kelas, melakukan refleksi, serta mengevaluasi hasil dari kegiatan aksi nyata dan untuk perbaikan kedepannya.

III.   Hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas

Bagaimana caranya agar pengelolaan sumber daya bisa meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah? Tentunya langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi aset/kekuatan yang ada kemudian menyusun strategi/program yang tepat dan melaksanakannya. Dalam tahapan menyusun strategi/program ini, kita bisa menggunakan tahapan BAGJA yang merupakan akronim dari: Buat Pertanyaan-Ambil Pelajaran-Gali Mimpi-Jabarkan Rencana-Atur Eksekusi. Apabila setiap sekolah mampu mengelola sumber daya yang ada di sekolahnya dengan tepat tanpa selalu mencari kekurangan yang ada , dapat dipastikan bahwa sekolah itu kedepannya dapat mewujudkan proses pembelajaran yang lebih berkualitas dan berdampak pada murid. Sekolah akan selalu menjadi ekositem yang baik yang dapat merangsang tumbuh kembangnya kretivitas dari anak didik maupun semua warga sekolah yang tentunya akan menunjang keberhasilan dari tujuan pendidikan yang berpusat pada murid dan merdeka belajar.

Pengelolaan sumber daya yang terdiri dari sumber daya modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansioal, modal agama dan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kulitas proses pembelajaran. Maka dari itu, pengelolaan harus dilakukan secara tepat. Setiap sumber daya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus bisa mengidentifikasi aset yang dimiliki sebagai kelebihan dari sumber daya, manfaatkan sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin dengan mengesampingkan kekurangan yang ada, fokus pada kekuatan dan dukungan yang dimiliki agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal dan berkualitas.

IV.   Hubungan dengan materi lain yang didapatkan sebelumnya selama mengikuti proses           Pelatihan Guru Penggerak.

Ø     Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.1

Menurut Ki Hajar Dewantara membedakan kata Pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan  tujuan pendidikan. Filosofi pemikiran KHD adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak , agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya , untuk itulah kita harus selalu berfikir berbasis aset atau kekuatan sehingga kita selalu dapat berfikir positif tentang potensi yang ada pada anak murid.

Ø    Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.2

Bila dikaitkan dengan nilai-nilai dan peran guru penggerak, sebagai pemimpin pengelolaan sumber daya harus memiliki nilai positif seperti Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotong royong dan kreatif.

Ø  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.3

Modul 1.3 Pengelolaan sumber daya bisa dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan berbasis aset dan pendekatan berbasis masalah. Sesuai dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) maka prinsip yang digunakan dalam pengelolaan adalah prinsip yang berbasis dengan kekuatan yang dimiliki (aset). Visi Guru Penggerak dengan menerapkan pendekatan Inkuiri Apresiatif model BAGJA dapat mewujudkan visi sekolah yang berpusat pada murid menuju murid yang merdeka belajar sesuai dengan profil pelajar Pancasila dengan memanfaatkan pengelolaan sumber daya.

Ø  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.4

Agar pemimpin pembelajaran dapat bersinergis dengan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka budaya positif perlu dilakukan salah satunya adalah budaya positif dalam melakukan kesepakatan kelas. dijadikan sebagai implementasi pembiasaan budaya positif dalam pengelolaan sumber daya bagi pemimpin pembelajaran.

Ø  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 2.1

Setiap siswa memiliki latar belakarng yang berbeda, memiliki bakat dan minat yang berbeda karena pada hakikatnya siswa memiliki multiple inteligensi. Sebagai pengelola sumber daya dalam pembelajaran kita harus bisa melayani setiap kebutuhan siswa. Pembelajaran Berdiferensiasi yang berpihak kepada murid dengan memperhatikan adanya diferensiasi konten , proses dan produk dari berbagai profil belajar murid adalah aset modal kekuatan bagi guru sebagai pemimpin pembelajran
di dalam mengelola sumber daya di sekolah. 
 
Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 2.2

Pembelajaran sosial dan emosional  ini diawali dengan kesadaran penuh bahwa   tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal, peran guru sangatlah penting.   Sebelum guru dapat membantu murid, ia perlu belajar memahami, mengelola, dan  menerapkan pembelajaran sosial dan emosional  dalam dirinya. sehingga anak murid bisa memaksimalkan potensi  , minat dan bakatnya sebagai modal aset dalam pengelolaan sumber daya. 

  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 2.3

Coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya,
Sebagai seorang ‘pamong’. Guru dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan
reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Dimana seorang pemimpin
haruslah memanfaatkan aset yang dimiliki seorang coachee.

Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 3.1 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dimana seorang pemimpin menggunakan prinsip moral , menerapkan strategi kepemimpinan sekolah, agar dapat mewujudkan pembelajaran yang memerdekakan murid sehingga setiap keputusan yang diambil tetaplah berdasarkan pengelolaan sumber daya bagi seorang pemimpin pembelajaran. Proses Coacing bisa dijadikan acuan dalam pengelola sumberdaya untuk melakukan pengambilan keputusan baik yang sifatnya dilema etika maupun bujukan moral. Pengambilan keputusan yang kita ambil jika berpedoman pada 9 langkah dalam mengambil keputusan pemimpin pembelajaran tentu sudah mencerminkan pengajaran yang berpihak pada murid, yang memerdekakan murid, meski dalam praktikknya memilih dilema etika itu sangat sulit.

 

V.  Hubungan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiranyang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

 

Sebelum mempelajari modul 3.2 saya tidak mengetahui tentang pendekatan berbasis aset , 7

modal utama sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dan masih berfokus pada

pemikiran terhadap  kekurangan dan masalah ( Deficit-Based Thinking ) sehingga membuat

saya melupakan kekuatan yang ada dan potensi yang dimiliki sekolah saya.

 

Setelah mempelajari modul ini saya baru menyadarai bahwasanya kita sebagai pengelola

sumber daya harus bisa memanfaatkan apa yang kita punya sebagai kekuatan. Fokusnya

adalah kelebihan yang dimiliki dengan mengesampingkan kekurangan. Memahami 7 modal

utama sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dan lebih berfikir positif serta

fokus kepada kekuatan aset yang dimiliki sekolah ( Assed-Based Thinking ).

 

Dapat saya tarik kesimpulanya bahwa pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah pemimpin yang mampu mengenali potensi dan kekuatan yang ada lalu memanfaatkannya untuk pembelajaran agar bisa optimal dan mendukung Merdeka Belajar. Sebagai seorang pemimpin akan lebih baik jika memanfaatkan sumber daya yang ada daripada selalu menunggu bantuan sambil berdiam diri tanpa ada usaha, tanpa pergerakan apapun.

 

Demikianlah hasil pemaparan Koneksi Antar materi – Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya semoga bermanfaat bagi kita semua. Salam guru penggerak.

 

2 komentar:

Siap Berbagi Bersama Ibu Sri mengatakan...

Sudah oke hanya tata letak spasi di atur lagi ya bunda .

SRI SIAP BERBAGI mengatakan...

Terus berkarya...

Design of Open Media | To Blogger by Blog and Web