Pelatihan Jurnalistik Bersama Media Kupas Tuntas

Selasa, 24 September 2024

" MEMBANGUN JURNALIS PROFESIONAL BERSAMA MEDIA KUPAS TUNTAS "


Sumber Berita :

Sri Astuti, S.Pd

SMP Negeri 32 Bandar lampung


Menindaklanjuti undangan Pelatihan Jurnalistik dari  Media Kupas Tuntas, SMP Negeri 32 Bandar Lampung mengirimkan 2 peserta dari unsur Kepala Sekolah dan guru. Kegiatan pelatihan kelas jurnalistik diselenggarakan di hotel Emersiah, Bandar Lampung, Selasa (24/09/2024). Kelas pelatihan jurnalistik tersebut diikuti serbanyak 200 peserta dari tingkat SD dan SMP se-Kota Bandar Lampung, dengan tema kegiatan “Membangkitan kreativitas melalui kegiatan kelas jurnalistik‟ .


Kegiatan ini menghadirkan pemateri Dr.Donald Sihotang, CEO media Kupas Tuntas group. Dr. Donald Sihotang, CEO dari Kupas Tuntas Group, menjadi pemateri utama dalam pelatihan jurnalistik yang digelar di Hotel Emersia, Bandar Lampung. Dalam pelatihan ini, Dr. Sihotang mengupas berbagai aspek penting dunia pers, mulai dari pengertian tentang pers, teknik dasar menulis berita, hingga penyelesaian sengketa pers dan peran kecerdasan buatan (AI) dalam industri jurnalisme modern.

Dalam sesi pertamanya, Dr. Donald menjelaskan secara rinci tentang pengertian pers, sejarahnya, serta fungsinya dalam masyarakat. Menurutnya, pers tidak hanya sekadar media penyampaian informasi, tetapi juga berfungsi sebagai kontrol sosial yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara kepentingan publik dan pemerintah. "Pers harus mampu menjadi pilar demokrasi yang independen, memberikan informasi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan," tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. Donald menyoroti pentingnya memahami teknik dasar dalam menulis berita yang baik dan benar. "Menulis berita tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga keakuratan dan kelengkapan informasi," katanya. Ia mengingatkan para peserta tentang struktur berita yang ideal, seperti piramida terbalik, yang menempatkan informasi paling penting di awal paragraf. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan sumber yang kredibel dalam sebuah berita.

Sesi berikutnya membahas tantangan dalam dunia pers, terutama terkait dengan penyelesaian sengketa pers. Dr. Donald menjelaskan bahwa sengketa pers sering kali muncul akibat ketidaksepahaman atau kesalahan dalam pemberitaan. Ia menekankan pentingnya media untuk selalu mengedepankan prinsip-prinsip jurnalistik yang etis, seperti verifikasi data dan pemberian hak jawab bagi pihak yang merasa dirugikan.

"Etika jurnalistik harus menjadi pegangan utama setiap jurnalis, terutama dalam menghadapi tantangan modern seperti berita palsu dan disinformasi," jelas Dr. Donald. Dalam hal sengketa, ia juga mengingatkan pentingnya mediasi sebagai langkah awal penyelesaian, sebelum membawa kasus ke jalur hukum. "Menjaga hubungan baik dengan narasumber dan masyarakat luas adalah kunci bagi keberlangsungan media," tambahnya.

Salah satu topik yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam industri media. Dr. Donald memaparkan bahwa AI telah mulai digunakan oleh beberapa media besar di dunia untuk membantu dalam proses penulisan berita, seperti mengolah data secara otomatis dan menghasilkan draft berita dalam hitungan detik. "AI memang bisa membantu efisiensi, tetapi tetap dibutuhkan sentuhan manusia untuk memastikan berita tersebut memiliki nilai jurnalistik dan kepekaan sosial," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran jurnalis, terutama dalam hal investigasi mendalam dan analisis yang memerlukan intuisi serta pemahaman konteks yang lebih luas. "AI adalah alat bantu, bukan pengganti. Keahlian jurnalis dalam menganalisis situasi dan memahami permasalahan tetap tidak bisa tergantikan oleh mesin," kata Dr. Donald dengan penuh keyakinan.

Peserta pelatihan sangat antusias dengan materi yang dibawakan oleh Dr. Donald. Mereka mengakui bahwa pemaparan tentang penggunaan AI dalam media adalah hal baru yang menarik dan relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Salah seorang peserta, Budi, menyatakan, "Saya baru tahu bahwa AI bisa digunakan dalam jurnalisme. Ternyata, teknologi ini bisa membantu, tetapi kita tetap harus menjadi jurnalis yang berpikir kritis."

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik. Para peserta diajak untuk melakukan latihan menulis berita berdasarkan materi yang disampaikan. Setelah sesi tentang teknik penulisan, mereka diminta untuk membuat berita singkat yang kemudian dievaluasi oleh tim dari Kupas Tuntas Group. Feedback dari Dr. Donald dan tim sangat membantu peserta memahami kesalahan-kesalahan umum dalam menulis berita.

Pada akhir pelatihan, Dr. Donald menutup dengan pesan penting kepada para peserta, khususnya terkait tanggung jawab moral jurnalis di era digital ini. "Jurnalis tidak hanya dituntut cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi juga harus bijak dalam memfilter informasi yang layak untuk disebarluaskan. Di era banjir informasi ini, jurnalis harus menjadi penjaga kebenaran, bukan sekadar pembawa berita," katanya mengakhiri sesi.

Pelatihan jurnalistik ini diharapkan dapat memberikan bekal yang berharga bagi para peserta dalam menjalani profesi sebagai jurnalis yang profesional, beretika, dan siap menghadapi tantangan di era digital.


JURNAL MINGGU KE-24 CGP Angk.2

Minggu, 17 Oktober 2021

 

JURNAL MINGGU KE-24




Pengalaman yang sangat berkesan bagi saya selama mengikuti pelatihan guru penggerak salah satunya ketika menulis jurnal refleksi setiap minggu mengapa ? Karena tanpa saya sadari membuat saya terbiasa untuk menulis yang selama ini jaarang saya lakukan. Diujung pengerjaan tugas pada LMS khususnya pada minggu ke-24 ini saya mencoba menggunakan model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, untuk merefleksi jurnal kegiatan sebagai berikut :

1.  Facts ( Peristiwa ) :

Pada tanggal 13 Oktober 2021 saya mendapatkan kunjungan pendampingan dari Bapak Aan Sururi sebagai pengajar praktek , beliau mayampaikan dan melihat perubahan apa yang terjadi di lingkungan sekolah setelah saya  mengetahui sumber daya yang ada dan bagaimana saya mewujudnyatakan perubahan tersebut? Kemudian melihat program sekolah yang berdampak pada murid  akan dikembangan dalam waktu dekat. Atasan arahan dan bimbingan dari Bapak Aan Suri agar saya dapat memggunakan alat bantu ketika membuat program sekolah dengan menngunkan 5 D ( BAGJA) dan MELR . Dan pada tanggal 16 Oktober 2021 tiba saatnya pada lokakarya ke-6 sungguh sangat diluar dugaan ketika diskusi kelompok dengan rekan CGP mereka sangat tertarik dengan program sekolah yang saya buat, ini yang membuat saya sangat bererimaksaih pada seluruh rekan CGP yang telah memberikan masukan seperti menganalisis manajemen resiko : kemungkinan resiko,ukuran resiko, dan strategi yang harus dilakukan .  

    

2.      Perasaan ( Feelings ) :

Ketika mendapatkan kunjungan pendampingan dari  Bapak Aan Sururi disinilah saya merasakan senang dan selalu menanti kedatangan setiap kunjungan karena Bapak AAn Sururi selalu membawa ide-ide yang cemerlang sehingga saya sebagai CGP sangat termotivasi dan ingin selalu berkolaborasi walaupun pendidikan guru penggerak sudah selesai. Yang tak kalah penting adalah saya sangat optimis bahwa saya dan seluruh rekan CGP dapat menyelesaikan tugas-tugas yang ada di LMS sesuai yang kami harapkan dan lulus sehingga huruf C akan hilang kamipun mendapatkan gelar Guru Penggerak.

3. Pembelajaran ( Findings ) :

Pelajaran  yang saya dapatkan dari proses ini  ( baik dari kegagalan maupun keberhasilan) adalah :

a.    Perlu adanya kolaborasi dari semua warga sekolah yang dapat mendukung program guru penggerak 

b.    Ketika menyusun rencana program sekolah harus memikirkan 5 aspek yaitu input,activity, output,outcame,impact ( Rantai Hasil )

c.    Manajemen resiko baik kecil,sedang dan besar dari kemungkinan yang akan terjadi ketika program sekolah akan dibuat benar-benar dikaji ulang agar program sekolah dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

4.  Penerapan Kedepan ( Future ) :

Rencana kedepan  penyusunan program sekolah sudah menggunakan tahapan 5 D ( BAGJA)  menggunakan strategi Monitoring, Evaluasi, Learning dan Reporting (MELR), dan rantai hasil juga dapat ditambahkan dalam pembuatan program.

 

Sekian dan terima kasih…salam guru penggerak.

Sri Astuti-CGP Angk.2-Bandar Lampung

 

 

MODUL 3.3.a.6 REFLEKSI TERBIMBING

Senin, 11 Oktober 2021

 3.3.a.6 REFLEKSI TERBIMBING-PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAPAK PADA MURID




     Kembali lagi sahabat pembaca yang budiaman bersama saya pada modul 3.3.a.6 Refleksi Terbimbing Pengelolaan Program yang Berdampak Pada Murid. Kini saatnya telah sampai pada fase refleksi terbimbing. Ketika saya mencoba untuk  merenung, mengingat kembali, dan melakukan refleksi mendalam berdasarkan pengalaman belajar yang telah saya lalui. Proses melakukan refleksi dan membuat kesimpulan ini didorong melalui pendampingan dan pertanyaan-pertanyaan fasilitator melalui LMS yang disediakan sebagai berikut :

  1. Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid? 
  2. Apa hal-hal baru yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 
  3. Perubahan apa yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

     Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan hasil dari renungan ,mengingat kembali dan melakukan refleksi semoga semua ini dapat menjadi isnpirasi dan bermanfaat bagi kita semua.

1. Apa yang menarik bagi saya setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid ?

   Pada modul 3.3 ini, saya diajarkan begitu banyak pengetahuan bagaimana cara mengelola program yang berdampak pada murid, sehingga semua kegiatan yang diadakan dalam program tersebut melibatkan seluruh murid dan murid mendapatkan sesuatu yang berharga merasa tersanjung ketika , dalam mengikuti kegiatan tersebut mereka diikut sertakan.

  Satu hal lagi yang sangat menarik adalah ketika saya melakukan pemetaan aset sekolah ternyata selama ini saya tidak mengetahui bahwa aset tersebut dapat dijadikan dan digali menjadi sumber modal bagi sekolah dalam membuat suatu program. Kami juga diajari bagaimana cara menggunakan aset dengan cara pengeloaan yang benar, yaitu melalui proses perencanaan program sampai pelaporan program  dengan menggunakan strategi Monitoring, Evaluasi, Learning dan Reporting (MELRdengan cara memonitoring dan mengevaluasi apa saja kegiatan yang sudah kita laksanakan. Dan yang paling penting adalah mampu mengidentifikasi manajemen resiko dari sebuah program.

2.Apa hal-hal baru yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

   Penyusunan dan pelaksanaan program sekolah dalam kegiatan apapun sebaiknya harus berdampak pada murid yang didasarkan pada konsep berpikir berbasis kekuatan. Selain itu program yang dibuat menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif (IA) melalui tahapan BAGJA dan melalui proses monitoring,evaluasi,learning dan reporting (MELR) serta manajemen resiko.

3.Perubahan apa yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

     Membuat dan menyusun rencana satu program sekolah yang berdampak pada murid dalam bentuk aksi nyata yang mengambil dari kekuatan aset sekolah yaitu modal lingkungan/alam. Tentunya dengan menggunakan beberapa tahapan-tahanpan konsep berpikir berbasis kekuatan,strategi MELR,pendekatan inkuiri apresiatif ,tahapan BAGJA dan menajemen resiko.


Demikianlah hasil renungan dan mengingat kembali modul 3.3 ini semoga dapat bermafaat bagi kita semua. Salam guru penggerak.



3.3.a.9.KONEKSI ANTARMATERI-PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

Minggu, 10 Oktober 2021

 3.3.a.9.KONEKSI ANTARMATERI-PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID


      Sebelumnya saya akan mengucapkan terimakasih kepada seluruh pembaca blog saya ini semoga apa yang dapat saya sampaikan dapat bermanfat bagi kita semua tak lupa pula mohon saran dan kritikan dalam penulisan di blog saya ini , karena tanpa kalian semua saya tidak dapat mengetahui kekurangan pada penulisan berikutnya. Pada kesempatan ini saya akan berbagi cerita tentang Koneksi Antarmateri - Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid dari seluruh modul selama saya mempelajari materi di LMS program guru penggerak,sukses sendiri itu biasa sukses bersama itu baru luar biasa.

      Sebagai bahan Panduan Pertanyaan untuk membuat Koneksi Antarmateri dapat memperhatikan petunjuk berikut ini :

  • Hal-hal menarik yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan bagaimana benang merah yang bisa Anda tarik dari keterkaitan antarmateri yang diberikan dalam modul 3.3?
  • Apakah kaitan antara pemetaan sumber daya dengan perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid? 
  • Adakah materi dalam modul lain/paket modul lain yang berhubungan dengan materi dalam modul 3.3. ini? Jabarkanlah jika ada. 
  • Bagaimana kaitan dari semua materi tersebut dengan peran Anda sebagai guru penggerak?
Berikut ulasan dari saya dalam menjawab pertanyaan tersebut :

  • Hal-hal menarik yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan bagaimana benang merah yang bisa Anda tarik dari keterkaitan antarmateri yang diberikan dalam modul 3.3?
      Yang membuat saya tertarik pada materi ini adalah saya mendapatkan pengetahuan bagaimana saya sebagai CGP dapat membuat suatu program sekolah,yang diawali dengan melihat aset yang dimiliki oleh sekolah. Dalam membuat program ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti tahapan membuat program mulai dari perencanaan hingga monitoring dan evaluasi. Program yang dirancang benar benar berdaya guna bagi lingkungan sekolah terutama pada kepentingan yang berpihak pada murid. 

       Keberhasilan suatu program yang berdampak pada murid memerlukan suatu pemahaman yang sama terhadap pengembangan aset yang dimiliki agar masing-masing bagian dari pemangku kepentingan sekolah dapat berkolaborasi dengan maksimal. Pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat dilakukan dengan cara memadukan pendekatan MELR dan Tahapan BAGJA sebagai pedoman dalam membuat program yang berdampak pada murid berdasarkan pemetaan tujuh aset/modal yang dimiliki sekolah melalui pendekatan berbasis aset/kekuatan dalam mewujudkan profil pelajar pancasila. Selain itu  manajemen risiko merupakan salah satu hal  wajib yang harus dilakukan dalam merencanakan program sekolah. Manajemen risiko haruslah menjadi satu kesatuan bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan sistem manajemen di sekolah.

       Dalam Prinsip Dasar Manajemen risiko (2019:3)  Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan; penetapan konteks, identifikasi,analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi risiko. Risiko dalam sebuah program merupakan sebuah langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi segala  sesuatu yang  kemungkinan besar dapat terjadi, termasuk juga dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan  wajib melakukan  rangkaian analisis dan metodologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. Risiko tidak dapat dihindari tetapi dapat dikelola dan dikendalikan karena apabila  risiko tidak dikelola dengan baik maka akan mengakibatkan kerugian serta hambatan,  sehingga program sekolah yang telah direncanakan  tidak berjalan dengan baik  Begitu pula sebaliknya apabila  risiko dapat  dikelola dengan baik maka sekolah dapat meminimalisir  segala kerugian yang dapat menghambat jalannya program  sekolah yang telah direncanakan.  Risiko merupakan sesuatu yang memiliki dampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. beberapa tipe risiko di lembaga pendidikan, meliputi:
  1. Risiko Strategis,  merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan
  2. Risiko Keuangan, merupakan risiko yang mungkin akan berakibat berkurangnya aset
  3. Risiko operasional, merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen
  4. Risiko pemenuhan, merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosuderal internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku
  5. Risiko Reputasi, merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. (Princewatercoper, 2003)

       Pada akhirnya perubahan-perubahan yang dilakukan sekolah akan menimbulkan suatu risiko, namun tidak melakukan perubahan pun merupakan sebuah risiko oleh karena itu setiap sekolah harus mengidentifikasi risiko dan merencanakan pengelolaannya. Apabila semua sekolah dapat menerapkan manajemen risiko maka setiap kerugian akan dapat diminimalisir. Adapun tahapan manajemen risiko adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi jenis risiko, 
  2. Pengukuran risiko, 
  3. Melakukan strategi dalam pengendalian risiko 
  4. Melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan.
      Pada akhirnya dalam modul 3.3 ini memiliki rangkaian materi pada modul sebelumnya dimana  sekolah merupakan ekosistem yang memiliki aset biotik dan abiotik yang dapat diberdayakan sebagai modal sekolah untuk dikelola serta dikembangkan secara sistematis, optimal, terarah dan berkelanjutan sehingga aset bernilai daya guna bagi kepentingan yang berpihak pada murid.

  • Apakah kaitan antara pemetaan sumber daya dengan perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid? 
      Perencanaan   suatu   program sekolah yang  berdampak  pada murid dibuat  berdasarkan pada asset based   thingking  atau  kekuatan  sekolah  dengan memetakan 7 ( Tujuh ) aset / modal  utama  sekolah  yang tersebut  akan  memberikan  dampak  terhadap  pengembangan  potensi setiap  murid yang ada di sekolah. Jadi aset yang dimiliki sekolah  dimanfaatkan secara  maksimal dan  dijadikan  kekuatan yang optimal tanpa menunggu asset dari luar sekolah. Panduan pengelolaan program berdampak pada murid adalah metode “BAGJA” yaitu buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali Mimpi, jabarkan rencana dan atur eksekusi.

      Dengan demikian program sekolah yang dibuat akan memberikan dampak pada murid dan tujuan sekolah yang berpihak pada murid akan tercapai secara efektif dan efisien dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan profil pelajar pancasila dan merdeka belajar.

  • Adakah materi dalam modul lain/paket modul lain yang berhubungan dengan materi dalam modul 3.3. ini? Jabarkanlah jika ada.
      Dalam merancang sebuah program sekolah yang berdampak pada murid dapat dilakukan melalui tahapan BAGJA yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif, yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan dan manajemen resiko sehingga dapat meminimalisir masalah yang terjadi. Berikut hubungan dengan modul lain dalam modul 3.3 ini yaitu :
  • Modul Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara ( KHD) : melalui kemampuan dalam membuat program sekolah yang berdampak pada murid dapat mendukung merdeka belajar karena guru “menuntun” siswa untuk belajar sesuai kodrat alam dan zaman guna pengembangan potensi dan kreatifitas murid di sekolah.
  • Inkuiri Apresiatif ( IA ): melalui kemampuan dalam membuat program yang berdampak pada murid dengan menggunakan model “BAGJA” berdasarkan pendekatan berbasis aset/kekuatan yang menghasilkan pemetaan 7 ( tujuh) aset/modal utama yang dimiliki sekolah yakni modal manusia, sosial, lingkungan sekitar/alam, Fisik, finansial dan politik, agama dan budaya maka sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat berfungsi dengan baik dengan menggunakan aset tersebut secara efektif dan efisien guna terwujudnya profil pelajar pancasila dan merdeka belajar.


  • Bagaimana kaitan dari semua materi tersebut dengan peran Anda sebagai guru penggerak?
       Kaitan dari semua materi tersebut dengan peran saya sebagai CGP adalah ; Perlunya penekan yang tajam bahwa seorang guru penggerak harus mampu menjalankan perannya agar tercipta merdeka belajar dalam mewujudkan profil pelajara Pancasila, mendorong wellbeing  ekosistem pendidikan sekolah dimana seorang guru berpihak pada murid, memberikan rasa nyaman dan pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik. Adapun bentuk keterkaitan semua materi terhadap peran guru penggerak sebagai berikut:
  • Sebagai pemimpin pembelajaran yang menuntun murid sesuai kodrat alam dan zaman secara mandiri, reflektif,kolaboratif, inovativ serta berpihak pada murid (Filosofi KHD).
  • Menyelaraskan  peran guru  penggerak dengan visi sekolah sebagai penerapan budaya positif melalui identifikasi kekuatan/potensi sekolah menggunakan Model BAGJA (IA-Budaya Positif)
  • Memetakan kebutuhan belajar murid sehingga murid tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya ((Pembelajaran Diferensiasi)
  • Sebagai dasar penanaman pendidikan karakter yang berimplikasi pada perkembangan sosial emosional murid (Pembelajaran KSE)
  • Melalui coaching model TIRTA mengoptimalkan pelaksanaan proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan murid/seseorang dalam menyelesaikan masalahnya sendiri (Coaching)
  • Pengambilan keputusan berdasarkan paradigm dilema etika, prinsip resolusi, 9 langkah pengambilan keputusan (Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran)
  • Memetakan tujuh aset/modal utama yang menjadi kekuatan sekolah (Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan pendekatan Asset Based Thingking)
  • Merencanakan program dengan pendekatan model BAGJA dan strategi MELR (Monitoring, Evaluation, Learning, Reporting) dan manajemen Resiko (Pengelolaan program yang berdampak pada murid).

Demikianlah hasil pemaparan koneksi antarmateri pengelolaan program yang berdampak pada murid semoga bermanfaat. Sebagai penutup dan perlu diingat oleh semua rekan CGP adalah : 
" Guru yang baik belum tentu guru penggerak , tetapi guru penggerak sudah pasti guru yang baik

Salam guru penggerak...bersama kita maju.
Terimakasih dari : Sri Astuti-CGP Angk.2- Bandar Lampung

Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Selasa, 28 September 2021

 

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Oleh : Sri Astuti, S.Pd

 

                                     

 

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan tentang  kesimpulan dan juga koneksi antara semua materi yang telah diberikan dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikuti proses Pelatihan Guru Penggerak. Kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana untuk dapat mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. 

I.     Guru Sebagai Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

Guru adalah seorang pemimpin. Oleh karena itu seorang guru haruslah mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik di kelas, sekolah, maupun lingkungan sekitar masyarakat.. Sosok kepemimpinan seorang guru sangat diperlukan dalam mengelola pembelajaran di kelas. Kepemimpinan seorang guru bisa dilihat dari bagaimana cara dia mengelola kelas, melakukan strategi dalam proses pembelajaran, dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada baik di kelas maupun di sekolah.

Selain sebagai pemimpin dalam pembelajaran, guru juga dituntut mampu menjadi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya asset sekolah, memiliki kemampuan dalam mengelolaan dan dapat memanfaatkan aset-aset atau modal yang ada dilingkungan sekolah, sehingga menjadi sebuah potensi yang harus dimaksimalkan untuk menunjang keberhasilan sebuah pendidikan yaitu pendidikan yang berpihak pada murid.

JIka diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

Murid

Kepala Sekolah

Guru

Staf/Tenaga Kependidikan

Pengawas Sekolah

Orang Tua

Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

Keuangan

Sarana dan prasarana

Berangkat dari lingkup yang paling kecil yaitu kelas, guru bisa mengidentifikasi modal/aset yang ada untuk dikembangkan. Modal/aset utama sebagai acuan dalam pengembangan sebuah kelas/sekolah adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya.

  • Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Thingking)

Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel di bawah ini.




 

  • Sejarah singkat pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development

ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010). 

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar.

  • v  Aset – aset dalam sebuah komunitas

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:

1. Modal Manusia

Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang.

Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok. Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi.

2. Modal Sosial

Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya. Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.

3. Modal Fisik

Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:

Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan. Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.

4. Modal Lingkungan/alam

Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.

5. Modal Finansial

Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.

Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.

Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.

6. Modal Politik

Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.

Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti  komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.

7. Modal Agama dan budaya

Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.

Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.

Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.

Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.

II.      Mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Sekolah bisa diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, karena didalamnya terdapat interaksi antara unsur hidup (biotik) dan unsur tak hidup (abiotik) dalam lingkungan tertentu. Yang termasuk unsur hidupnya adalah murid, guru, kepala sekolah, pengawas, staf/tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan unsur tak hidupnya adalah keuangan dan sarana prasarana sekolah. Berangkat dari hal di atas maka sekolah bisa disebut sebagai sebuah komunitas.

Cara mengimplementasikannya dimulai dari diri sendiri dengan selalu berpikir positif / merubah mindset , semangat yang tinggi serta menjalin komunikasi yang baik dan berkolaborasi dengan berbagai pihak baik pemangku kepentingan maupun rekan sejawat lainya di sekolah, lalu merencanakan sebuah program sederhana yang berdampak pada murid dengan memanfaatkan  aset-aset yang ada di sekolah, selanjutnya menerapkan dalam aksi nyata di kelas, melakukan refleksi, serta mengevaluasi hasil dari kegiatan aksi nyata dan untuk perbaikan kedepannya.

III.   Hubungannya pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas

Bagaimana caranya agar pengelolaan sumber daya bisa meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah? Tentunya langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi aset/kekuatan yang ada kemudian menyusun strategi/program yang tepat dan melaksanakannya. Dalam tahapan menyusun strategi/program ini, kita bisa menggunakan tahapan BAGJA yang merupakan akronim dari: Buat Pertanyaan-Ambil Pelajaran-Gali Mimpi-Jabarkan Rencana-Atur Eksekusi. Apabila setiap sekolah mampu mengelola sumber daya yang ada di sekolahnya dengan tepat tanpa selalu mencari kekurangan yang ada , dapat dipastikan bahwa sekolah itu kedepannya dapat mewujudkan proses pembelajaran yang lebih berkualitas dan berdampak pada murid. Sekolah akan selalu menjadi ekositem yang baik yang dapat merangsang tumbuh kembangnya kretivitas dari anak didik maupun semua warga sekolah yang tentunya akan menunjang keberhasilan dari tujuan pendidikan yang berpusat pada murid dan merdeka belajar.

Pengelolaan sumber daya yang terdiri dari sumber daya modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansioal, modal agama dan budaya akan sangat berpengaruh terhadap kulitas proses pembelajaran. Maka dari itu, pengelolaan harus dilakukan secara tepat. Setiap sumber daya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus bisa mengidentifikasi aset yang dimiliki sebagai kelebihan dari sumber daya, manfaatkan sumber daya yang ada dengan semaksimal mungkin dengan mengesampingkan kekurangan yang ada, fokus pada kekuatan dan dukungan yang dimiliki agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal dan berkualitas.

IV.   Hubungan dengan materi lain yang didapatkan sebelumnya selama mengikuti proses           Pelatihan Guru Penggerak.

Ø     Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.1

Menurut Ki Hajar Dewantara membedakan kata Pendidikan dan pengajaran dalam memahami arti dan  tujuan pendidikan. Filosofi pemikiran KHD adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak , agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya , untuk itulah kita harus selalu berfikir berbasis aset atau kekuatan sehingga kita selalu dapat berfikir positif tentang potensi yang ada pada anak murid.

Ø    Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.2

Bila dikaitkan dengan nilai-nilai dan peran guru penggerak, sebagai pemimpin pengelolaan sumber daya harus memiliki nilai positif seperti Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotong royong dan kreatif.

Ø  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.3

Modul 1.3 Pengelolaan sumber daya bisa dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu pendekatan berbasis aset dan pendekatan berbasis masalah. Sesuai dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) maka prinsip yang digunakan dalam pengelolaan adalah prinsip yang berbasis dengan kekuatan yang dimiliki (aset). Visi Guru Penggerak dengan menerapkan pendekatan Inkuiri Apresiatif model BAGJA dapat mewujudkan visi sekolah yang berpusat pada murid menuju murid yang merdeka belajar sesuai dengan profil pelajar Pancasila dengan memanfaatkan pengelolaan sumber daya.

Ø  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 1.4

Agar pemimpin pembelajaran dapat bersinergis dengan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka budaya positif perlu dilakukan salah satunya adalah budaya positif dalam melakukan kesepakatan kelas. dijadikan sebagai implementasi pembiasaan budaya positif dalam pengelolaan sumber daya bagi pemimpin pembelajaran.

Ø  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 2.1

Setiap siswa memiliki latar belakarng yang berbeda, memiliki bakat dan minat yang berbeda karena pada hakikatnya siswa memiliki multiple inteligensi. Sebagai pengelola sumber daya dalam pembelajaran kita harus bisa melayani setiap kebutuhan siswa. Pembelajaran Berdiferensiasi yang berpihak kepada murid dengan memperhatikan adanya diferensiasi konten , proses dan produk dari berbagai profil belajar murid adalah aset modal kekuatan bagi guru sebagai pemimpin pembelajran
di dalam mengelola sumber daya di sekolah. 
 
Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 2.2

Pembelajaran sosial dan emosional  ini diawali dengan kesadaran penuh bahwa   tidaklah cukup apabila murid hanya mengembangkan kemampuan akademiknya saja. Untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal, peran guru sangatlah penting.   Sebelum guru dapat membantu murid, ia perlu belajar memahami, mengelola, dan  menerapkan pembelajaran sosial dan emosional  dalam dirinya. sehingga anak murid bisa memaksimalkan potensi  , minat dan bakatnya sebagai modal aset dalam pengelolaan sumber daya. 

  Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 2.3

Coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya,
Sebagai seorang ‘pamong’. Guru dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan
reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Dimana seorang pemimpin
haruslah memanfaatkan aset yang dimiliki seorang coachee.

Koneksi Materi Modul 3.2 dengan Modul 3.1 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dimana seorang pemimpin menggunakan prinsip moral , menerapkan strategi kepemimpinan sekolah, agar dapat mewujudkan pembelajaran yang memerdekakan murid sehingga setiap keputusan yang diambil tetaplah berdasarkan pengelolaan sumber daya bagi seorang pemimpin pembelajaran. Proses Coacing bisa dijadikan acuan dalam pengelola sumberdaya untuk melakukan pengambilan keputusan baik yang sifatnya dilema etika maupun bujukan moral. Pengambilan keputusan yang kita ambil jika berpedoman pada 9 langkah dalam mengambil keputusan pemimpin pembelajaran tentu sudah mencerminkan pengajaran yang berpihak pada murid, yang memerdekakan murid, meski dalam praktikknya memilih dilema etika itu sangat sulit.

 

V.  Hubungan antara sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan terkait modul ini, serta pemikiranyang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

 

Sebelum mempelajari modul 3.2 saya tidak mengetahui tentang pendekatan berbasis aset , 7

modal utama sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dan masih berfokus pada

pemikiran terhadap  kekurangan dan masalah ( Deficit-Based Thinking ) sehingga membuat

saya melupakan kekuatan yang ada dan potensi yang dimiliki sekolah saya.

 

Setelah mempelajari modul ini saya baru menyadarai bahwasanya kita sebagai pengelola

sumber daya harus bisa memanfaatkan apa yang kita punya sebagai kekuatan. Fokusnya

adalah kelebihan yang dimiliki dengan mengesampingkan kekurangan. Memahami 7 modal

utama sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dan lebih berfikir positif serta

fokus kepada kekuatan aset yang dimiliki sekolah ( Assed-Based Thinking ).

 

Dapat saya tarik kesimpulanya bahwa pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah pemimpin yang mampu mengenali potensi dan kekuatan yang ada lalu memanfaatkannya untuk pembelajaran agar bisa optimal dan mendukung Merdeka Belajar. Sebagai seorang pemimpin akan lebih baik jika memanfaatkan sumber daya yang ada daripada selalu menunggu bantuan sambil berdiam diri tanpa ada usaha, tanpa pergerakan apapun.

 

Demikianlah hasil pemaparan Koneksi Antar materi – Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya semoga bermanfaat bagi kita semua. Salam guru penggerak.

 

Design of Open Media | To Blogger by Blog and Web